oleh

Hujan, Petani Karet di Empat Lawang ‘Ngangur’

RAKYATEMPATLAWANG.SUMEKS.CO – Tingginya curah hujan di sejumlah wilayah di Sumsel, membuat  petani khususnya petani karet kesulitan mendapat hasil produksi getah yang maksimal. Seperti petani karet di Kabupaten Empat Lawang, terkendala musim hujan untuk memproduksi getah sehingga berpengaruh terhadap pendapatan mereka.

Jali (45) seorang petani karet mengatakan produksi getah karet musim hujan jauh lebih sedikit dibanding saat cuaca stabil karena getah karet habis ditimpa hujan.

“Kadang-kadang belum selesai menyadap karet, hujan datang sehingga getah yang dikumpulkan pada setiap batang karet habis ditimpa hujan,” ujarnya, Senin (24/1).

Menurutnya, hujan saat malam ataupun pagi hari sama saja, semuanya membuat para petani karet tidak bisa menyadap. Jika hujan pada pagi hari, maka tidak bisa menyadap sama sekali. Sedangkan jika turun hujan saat sore hari, getah karet yang ada di tempurung juga rusak terkena air hujan.

Hal senada juga diungkapkan Zaili(45), petani karet lainnya. Dengan kondisi hujan, keluhnya, ia hanya ke kebun untuk melihat kondisi kebun, bukan untuk menyadap.”Akhir-akhir ini hujan siang malam, jadi tidak bisa menyadap kami dek,” keluhnya.

Kondisi ini diperparah dari batang pohon karet tak lagi mengeluarkan getah atau fenomena tersebut biasa dinamakan mati getah.

“Sesudah disadap dan langsung hujan kemudian terjadi terus menerus dampaknya mengakibatkan mati getah. Selain kendala lain proses pembekuan getah memakan waktu lama,” ujarnya.

Padahal, lanjutnya lagi, kondisi harga getah pada pasaran minggu ini tetap stabil. Dimana, harga getah kualitas mingguan dikisaran Rp 10.200 hingga Rp 10.500 per kilogram. Namun demikian, jika dibandingkan dengan harga beberapa jenis kebutuhan pokok saat ini meroket, sehingga harga getah belum bisa menutupi kebutuhan hidup ditambah cuaca yang kurang mendukung.

Komentar

BACA JUGA